Virus Mirip Chikunguya? Dimanakah Peran Pemerintah?
Hari ini 9 Nopember 2009, aku baru mendapat kabar yang tidak mengenakkan dari kampung halamanku, dari keluargaku sendiri. Wabah penyakit mirip Chikunguya yang sedang mengidap beberapa kampung lain, ternyata sudah menyebar sampai tempat aku dilahirkan dulu: Gelumbang.
Terakhir kabar mengenai penyakit itu aku dengar saat lebaran kemarin aku pulang, sekitar satu bulanan lalu, Idul FItri 1430 H. Waktu itu sedang mewabah di Desa Karang Endah, dan waktu itu aku pikir akan langsung ditindak lanjuti oleh Pemkab setempat. Namun apa yang terjadi, sungguh di luar dugaan.
Ternyata keluargaku pun sudah menjadi korbannya. Dan ternyata tak ada usaha apa-apa yang dilakukan, bahkan sosialisasipun tidak. Seolah Pemkab Muara Enim tutup mata mengenai hal itu. Virus yang mirip dengan Chikunguya ini awalnya aku dengar dari Desa Sebelah: Desa Karang Endah, namun ternyata menyebar sampai ke pelosok. Kontan, Desa lainnya yang berdekatan seperti Desa Gaung Telang dan Desa Midar pun terkena imbasnya. Namun, virus ini tak berhenti sampai di situ saja.
Wilayah Kelurahan Gelumbang pun terkena sebarannya, tak terkecuali Desa terdekat: Desa Suka Menang (atau dulu disebut sebagai Desa Talang Menerai).
Terakhir kabar bahwa Dua Siswa Kakak Adik SMK Pertanian Desa Talang Taling pun sudah terkena. Setelah adiknya diantar pulang ke Desa Talang Taling, besoknya giliran kakaknya sendiri yang terkena. Akhirnya, secara swadaya pun dia diantar ke tempat dia tinggal.
Jikalau memang ini adalah kasus biasa, mengapa sampai merambat sampai ke Desa-Desa yang lain? Jikalau kita mau membuat peta penyebarannya, akan terlihat pola sebaran virus ini. Bila mulai dari Desa Karang Endah, lalu ke Desa Gaung Telang, Desa Midar, Kelurahan Gelumbang, Desa Suka Menang, terlihat bahwa polanya menyebar cepat. Dalam tempo kurang dari 2 bulan (terhitung dari Akhir Ramadhan sampai hampir Idul Fitri ini) virus tersebut lumayan kompeten dalam membuat penduduk Kecamatan Gelumbang ‘lumpuh’.
Dilansir dari Dokter setempat di Kelurahan Gelumbang sendiri, didapat kesimpulan bahwa penyakit ini mirip dengan Chikunguya, namun bukan. Gejalanya pun mirip. Entahlah, apakah ini betul-betul Chikunguya, atau telah berkembang virus terbaru dari nyamuk yang masih satu bangsa dengan nyamuk penyebab Chikunguya?
Yang patut dilirik di sini adalah perhatian Pemerintah Kabupaten Muara Enim sendiri terhadap kehidupan penduduknya. Sungguh sangat cepat sekali responnya. Sampai-sampai hingga saat ini pun, tak ada respon sedikit pun dari Pemkab setempat. Apa yang sebenarnya ditunggu? Jatuhnya korban dulu baru direspon? Ratusan orang sudah menjadi korban, namun tak ada tindakan, di mana letak peran Pemerintah setempat? Dimana peran para pranata Humasnya? Dimana letak peran para wakil rakyatnya? Mengapa sampai tak ada tindakan apa-apa?
Ataukah karena yang menjadi korban hanyalah selevel “Pion”? Lalu menunggu selevel minimal “Perdana Menteri” atau bahkan “Raja” baru mau bertindak?
Sungguh sudah terjadi. Bahkan Sang “Perdana Menteri” dan “Raja” pun sudah terkena imbas dari penyebaran Virus MIrip Chikunguya ini! Bahkan salah seorang Wakil Rakyat pun sudah mendapat ‘jatah’ yang sama, layaknya rakyat biasa lainnya!
Apa sebenarnya penyebab dari wabah ini? Faktor lingkungankah? Mungkin iya mungkin juga tidak. Mungkin, karena memang mungkin di lingkungan aku dilahirkan memang ‘rada kurang bersih’. Namun, apakah itu berlaku untuk selevel “Raja”? Notabene mereka tak akan mau untuk mempunyai lingkungan yang ‘kurang bersih’ bukan? Sebisa mungkin mereka akan membuat sebuah perbedaan untuk memunculkan “perbedaan”. “lihat nih! Kalau mau cari Kepalanya, cari aja yang rumahnya paling mentereng!”. Mungkin itu saja dalam benak mereka? Entahlah. Yang jelas Virus Mirip Chikunguya ini sampai detik ini belum ada tindakan apa-apa dari Pemkab setempat. Mereka seolah bungkam! Kalau memang mau menunggu si “Orang Besar” baru ada respon, maka sekali kucetuskan bahwa SUDAH ADA ORANG BESAR YANG MENJADI KORBAN!!!!
Fogging, imunisasi, atau sekadar sosialisasi untuk hidup sehat atau apalah namanya, itu pun tak terjadi! Hebat betul budaya Indonesia sekarang, ya?? Mengapa dari dulu tak pernah berubah. Tetap saja seperti itu. Menunggu sampai ratusan orang sudah meninggal akibat virus ini, baru Pemerintah bertindak. Apa harus selalu begitu? Menunggu status menjadi “Kejadian Luar Biasa” dahulu, baru Pemerintah merespon? Sudah mendapat sorotan media dahulu, baru bertindak! Mengapa negarawan sekarang menjadi sangat “Banci Kamera”? Hanya untuk mejeng di Televisi? Mengapa budaya kita selalu begini? Jikalau mau sadar, dengan kebaikan pun kita sudah bisa masuk Televisi! Tak perlu menunggu sesuatu yang jelek dulu!!!
Wahai para wakil rakyat, baik itu DPR, MPR, Polisi, PNS, Bupati, Camat, Lurah, Gubernur, siapapun itu! Bertindaklah! Anda dibayar untuk melayani rakyat. Anda hidup dari rakyat! Jangan khianati kepercayaan yang sudah berikan! Jangan nodai ketulusan rakyat dengan tindakan yang “pembiaran”. Mengapa selalu begini?
Memang jaman sekarang sedang sulit. Ekonomi dunia pun sedang resesi. Namun Indonesia sukses untuk tidak berlama-lama menelan krisis toh? Indonesia tidak mengalami resesi berkepanjangan toh? Indonesia sudah membuktikan kalau kita tidak terlalu bergantung pada perdagangan asing. Karena itu, sudah saatnya kita bisa fokus terhadap kesejahteraan rakyat sendiri.
Mari bersama-sama, bahu membahu membangun kampung halaman kita. Harta bukan jaminan untuk hidup. Berhentilah memakan uang rakyat. Berhentilah tidak perduli dengan rakyat. Demi Allah, anda matipun rakyat juga yang mengurus! Maka janganlah sombong!
Mau sampai kapan Anda menipu rakyat? Mau sampai kapan akan menumpuk harta begitu? Memangnya sampai tahun berapa harta itu akan bertahan? Uang bisa ludes, tahta bisa ambles, namun ketulusan hati, keikhlasan, kebaikan manusia tak akan lekang dimakan waktu. Ia akan hidup selamanya. Meskipun Anda dizalimi sekalipun, percayalah, rakyat tahu siapa yang benar, siapa yang salah, siapa yang pantas mendapat apa, siapa yang patut memperoleh apa. Anda hidup dari rakyat, karena itu layanilah mereka dengan baik dan tulus ikhlas. Mudah-mudahan dibalas pahala dari Allah SWT.
Jakarta, 9 Nopember 2009
Mohammad Jabbar Oxtaverdi
Pemerhati Masyarakat
Putra Belide Asli Gelumbang